Kamis, 01 Desember 2011
Aku Terpaksa Menikahinya | Sebuah kisah inspiratif
Sebuah kisah yang harus kita renungkan, dan supaya jangan sampai hal ini terjadi kepada kita....
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
***
kisah ini terinspirasi dari setiap kisah teristimewa, semoga ada kebaikan bagi aku sang penulis dan bagi kamu yang sejenak membaca dari kisah ini….
apalah kita hanya seonggok daging tak bernyawa, keegoisan dan kesemuaan yang kerap kita nampakkan…aku tak ubahnya kamu dan kamu tak ubahnya aku…ya, kita sama-sama jasad yang kelak hanya menjadi bangkai….
Rabu, 30 November 2011
Kisah Wanita Berpurdah
Suatu hari aku berjalan melalui pasar. Bertepatan dengan kumandang adzan, aku melihat seorang wanita. Wanita itu ganjil cantiknya. Dia berpaling kepadaku seolah-olah tahu bahwa aku memperhatikannya. Malah dia memberikanku anggukan kecil penuh makna sebelum dia berpaling di satu sudut menuju ke lorong penjual sutra.
Bagaikan terkena panah halilintar, aku serta-merta tertarik, hatiku terpukau dengan wanita itu. Dalam kepayahan aku berdebat dengan hatiku, memberikan satu demi satu alasan untuk meneruskan langkahku ke masjid untuk melaksanakan sholat yang sudah waktunya, namun perdebatan ternyata gagal. Aku memutuskan untuk mengikut wanita tersebut.
Aku bergegas mengejar wanita itu, nafasku habis dan terengah manakala wanita itu tanpa disangka mempercepat langkahnya. Dia telah berada jauh beberapa kedai di hadapan. Seketika dia memalingkan wajahnya padaku, serasa aku dapat melihat cahaya senyuman nakal wanita itu dibalik purdah hitamnya. "Adakah ini khayalanku saja?" bisik hatiku. Akalku seolah-olah tidak berfungsi pada waktu itu.
"Siapakah wanita itu?"
Aku memantapkan langkahku dan memasuki lorong dimana wanita itu kulihat masuk. Wanita itu terus melangkah dan senantiasa jauh dihadapanku, masih belum dapat aku kejar, semakin jauh dan jauh. Aku menjadi penasaran dan terus mengejarnya.
"Apakah wanita itu orang gila?" hatiku berbisik
Semakin jauh nampaknya wanita itu berjalan hingga ke penghujung bandar. Mentari turun dan tenggelam, dan wanita tersebut masih berada jauh di hadapanku. Sekarang, kami berada di tempat yang tidak disangka, sebuah perkuburan lama.
Kalaulah aku sadar seperti biasanya, pasti aku akan merasa gemetar, tapi aku terfikir, tempat yang lebih ganjil dari ini biasa dijadikan tempat pasangan kekasih memadu asmara. Dalam 60 langkah di antara kami aku melihat wanita itu memandang ke arahku, menunjuk arah, kemudian turun ke tangga dan melalui pintu bangunan sebuah kubur tua.
Kalaulah aku tidak diamuk senyuman wanita itu tadi, pasti aku berhenti sebentar dan memegun masa, tapi sekarang tiada guna berpaling arah, aku menuruni tangga tersebut dan mengekori wanita itu ke dalam bangunan kubur itu. Di dalam bilik bangunan kubur itu, kudapati wanita itu duduk di atas ranjang yang mewah, berpakaian serba hitam masih berpurdah, bersandar pada bantal yang diletak pada dinding, diterangi cahaya lilin pada dinding bilik itu. Di sebelah ranjang itu, aku terpandang sebuah lubang perigi. "Kuncikan pintu itu," kata wanita itu, dengan suara yang halus gemersik seumpama berbisik, "dan bawakan kuncinya."
"Buangkan kunci tersebut ke dalam perigi itu," kata wanita itu. Aku tergamam sebentar, kalaulah ada saksi di situ, pasti saksi itu dapat melihat gamamku. "Buang-lah," ujar wanita itu sambil ketawa" tadi apakah kau tidak berfikir panjang untuk meninggalkan sholatmu untuk mengekoriku kemari?" Tempelak wanita itu lagi. Akupun terdiam.
"Waktu maghrib sudah hampir selesai" kata wanita itu bernada sedikit menyindir. "Apa yang kau risaukan? Pergilah buangkan kunci itu, kau mau aku memuaskan nafsumu bukan?" Aku terus membuang kunci pintu tersebut ke dalam perigi, dan memperhatikan kunci itu jatuh. Perutku terasa bersimpul tatkala tidak ada lagi bunyi yang terdengar ketika kunci itu jatuh ke dalam lantai perigi. Aku berasa kagum, kemudian takut.
"Tibalah waktunya untuk melihat aku" kata wanita tersebut, dan dia mengangkat purdahnya untuk memperlihatkan wajah sebenarnya. Bukan wajah segar seorang gadis remaja, tapi yang aku lihat hanyalah wajah yang mengerikan, jijik, hitam dan keji, tanpa satu zarah cahaya kelihatan pada alur kedut ketuaannya" Pandang aku sungguh-sungguh!" kata wanita itu lagi.
"Namaku Dunia. Aku kekasihmu. Kau habiskan masamu mengejarku, sekarang kau telah memiliki diriku. Didalam kuburmu. Mari.... Mari...." Kemudian wanita itu tertawa dan terus tertawa, sehingga dia hancur menjadi debu, dan lilin itu padam satu per satu, dan kegelapanpun menyelubungi suasana.
Bagaikan terkena panah halilintar, aku serta-merta tertarik, hatiku terpukau dengan wanita itu. Dalam kepayahan aku berdebat dengan hatiku, memberikan satu demi satu alasan untuk meneruskan langkahku ke masjid untuk melaksanakan sholat yang sudah waktunya, namun perdebatan ternyata gagal. Aku memutuskan untuk mengikut wanita tersebut.
Aku bergegas mengejar wanita itu, nafasku habis dan terengah manakala wanita itu tanpa disangka mempercepat langkahnya. Dia telah berada jauh beberapa kedai di hadapan. Seketika dia memalingkan wajahnya padaku, serasa aku dapat melihat cahaya senyuman nakal wanita itu dibalik purdah hitamnya. "Adakah ini khayalanku saja?" bisik hatiku. Akalku seolah-olah tidak berfungsi pada waktu itu.
"Siapakah wanita itu?"
Aku memantapkan langkahku dan memasuki lorong dimana wanita itu kulihat masuk. Wanita itu terus melangkah dan senantiasa jauh dihadapanku, masih belum dapat aku kejar, semakin jauh dan jauh. Aku menjadi penasaran dan terus mengejarnya.
"Apakah wanita itu orang gila?" hatiku berbisik
Semakin jauh nampaknya wanita itu berjalan hingga ke penghujung bandar. Mentari turun dan tenggelam, dan wanita tersebut masih berada jauh di hadapanku. Sekarang, kami berada di tempat yang tidak disangka, sebuah perkuburan lama.
Kalaulah aku sadar seperti biasanya, pasti aku akan merasa gemetar, tapi aku terfikir, tempat yang lebih ganjil dari ini biasa dijadikan tempat pasangan kekasih memadu asmara. Dalam 60 langkah di antara kami aku melihat wanita itu memandang ke arahku, menunjuk arah, kemudian turun ke tangga dan melalui pintu bangunan sebuah kubur tua.
Kalaulah aku tidak diamuk senyuman wanita itu tadi, pasti aku berhenti sebentar dan memegun masa, tapi sekarang tiada guna berpaling arah, aku menuruni tangga tersebut dan mengekori wanita itu ke dalam bangunan kubur itu. Di dalam bilik bangunan kubur itu, kudapati wanita itu duduk di atas ranjang yang mewah, berpakaian serba hitam masih berpurdah, bersandar pada bantal yang diletak pada dinding, diterangi cahaya lilin pada dinding bilik itu. Di sebelah ranjang itu, aku terpandang sebuah lubang perigi. "Kuncikan pintu itu," kata wanita itu, dengan suara yang halus gemersik seumpama berbisik, "dan bawakan kuncinya."
"Buangkan kunci tersebut ke dalam perigi itu," kata wanita itu. Aku tergamam sebentar, kalaulah ada saksi di situ, pasti saksi itu dapat melihat gamamku. "Buang-lah," ujar wanita itu sambil ketawa" tadi apakah kau tidak berfikir panjang untuk meninggalkan sholatmu untuk mengekoriku kemari?" Tempelak wanita itu lagi. Akupun terdiam.
"Waktu maghrib sudah hampir selesai" kata wanita itu bernada sedikit menyindir. "Apa yang kau risaukan? Pergilah buangkan kunci itu, kau mau aku memuaskan nafsumu bukan?" Aku terus membuang kunci pintu tersebut ke dalam perigi, dan memperhatikan kunci itu jatuh. Perutku terasa bersimpul tatkala tidak ada lagi bunyi yang terdengar ketika kunci itu jatuh ke dalam lantai perigi. Aku berasa kagum, kemudian takut.
"Tibalah waktunya untuk melihat aku" kata wanita tersebut, dan dia mengangkat purdahnya untuk memperlihatkan wajah sebenarnya. Bukan wajah segar seorang gadis remaja, tapi yang aku lihat hanyalah wajah yang mengerikan, jijik, hitam dan keji, tanpa satu zarah cahaya kelihatan pada alur kedut ketuaannya" Pandang aku sungguh-sungguh!" kata wanita itu lagi.
"Namaku Dunia. Aku kekasihmu. Kau habiskan masamu mengejarku, sekarang kau telah memiliki diriku. Didalam kuburmu. Mari.... Mari...." Kemudian wanita itu tertawa dan terus tertawa, sehingga dia hancur menjadi debu, dan lilin itu padam satu per satu, dan kegelapanpun menyelubungi suasana.
Pesan Terakhir Ayah | Sebuah kisah inspiratif
Sobat,
Apakah arti sebuah kehidupan bila kita tidak bisa membuat orang yang kita sayangin merasa bahagia dan mendapatkan sebuah tempat yang nyaman di akhir hidupnya.
Dulu,
Setiap pagi saya masih ingat ketika saya kecil, saya dan adik saya selalu berangkat dengan sebuah vespa tua milik ayah saya untuk pergi ke sekolah. Walaupun bunyinya tidak enak didengar, tapi itu lah kenangan terindah dalam hidup saya. mengapa? karena dengan sepenuh hati Ayah saya mengantarkan saya pergi ke sekolah. Setiap paginya ayah saya bangun di pagi hari untuk bersiap-siap mengantarkan saya, sedangkan ibu saya sibuk membuat kue yang akan dia perdagangkan di pasar sebagai satu-satunya mata pencarian yang menopang kehidupan keluarga kami walaupun ayah juga bekerja sebagai dokter rumahan tradisional.
Ayah saya adalah seorang pekerja yang mengandalkan jasanya untuk mengobati anak-anak yang sakit, ayah termasuk orang yang dhermawan. Iya dikenal luas oleh tetangga-tetangga saya sebagai orang yang baik hati karena terkadang menolong pasien yang datang dengan gratis karena tidak mampu, tidak heran ditempat saya yang lingkungannya masih terbelakang karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang di pasar mengenal baik ayah saya. Ibu saya juga wanita tangguh dan tidak pernah malu berdagang kue di pasar, ia sadar keluarga kami sederhana dan hanyalah ini yang ia bisa lakukan agar saya dan adik saya tetap dapat bersekolah.
Saya tidak pernah tau mengapa ayah saya sering sekali bangun di pagi hari dan batuk tiada henti hingga selalu membuat saya terbangun dari tidur saya. Hal itu terjadi nyaris 3 tahun terakhir hingga saya lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk sekolah menengah utama, sejak saat itu saya tidak pernah diantar oleh ayah saya karena saya bersekolah di siang hari sedangkan adik saya masih pergi bersama ayah. Ayah adalah orang yang mengutamakan orang lain, saya pernah ingat suatu ketika di malam hari seorang ibu datang mengetuk pintu kami disaat kami berisrihat bersama bayinya. Ibu itu menangis karena anaknya mengalami kesulitan bernafas, ayah saya dengan sigap menolong ibu itu walaupun saat itu bukan jam prakteknya.
Merasa iba dengan cerita ibu muda itu yang mengaku kehilangan suaminya, ayah bukan hanya memberikan gratis pengobatan tapi juga membantu memberikan uang seadanya untuk ibu itu agar bisa membeli obat kepada anaknya, paginya saya mendekat pada ayah karena saya ingin memberi buku pelajaran baru dengan polos ayah mengaku uang yang ia siapkan untuk membeli buku baru saya telah diberikan kepada ibu yang bertandang ke rumah kami semalam. Saya sedih sekaligus marah tapi ayah mengingatkan saya bahwa buku saya masih bisa saya beli nanti bila ia berhasil mendapatkan uang, tapi saya mendapatkan satu pelajaran dari pengorbanan ayah kelak hari.
Keesokan paginya tidak seperti biasanya ayah batuk-batuk tiada henti hingga membuat kami cemas, ibu yang masih membuat kue sampai meninggalkan kuenya demi meminta tolong tetangga saya karena kondisi ayah sangat parah hingga batuk mengeluarkan darah. Saya bersedih hati ketika melihat beberapa tetangga saya pergi membawa ayah saya dan menyarankan saya bersama adik saya dirumah saja. Dengan cemas saya berpikir ayah akan kembali pada siang hari dan ternyata saya salah hingga ibu pulang seorang diri sambil mengatakan saya harus bersiap-siap berkunjung ke rumah sakit.
Ketika tiba di rumah sakit, saya melihat ayah sudah dalam keadaan tidak mampu berdiri dengan alat bantu pernafasan yang dihempaskan suster mengunakan tabung kecil ke mulutnya. Saya dan adik saya langsung menangis melihat keadaan itu, saya bertanya kepada ibu saya apa yang terjadi mengapa ayah bisa sampai diperlakukan demikian. Ibu mengatakan pada saya untuk mendekat pada ayah dan katakan hal yang ingin saya katakan pada ayah untuk terakhir kalinya. Saya tertenggun dan sadar bahwa ayah sedang menunggu saya untuk bicara, adik saya yang masih kecil seperti tidak terlalu mengerti keadaan ayah tapi ikut menangis.
Saya dekati ayah saya dan bertanya apakah ayah akan baik baik saja. Beliau tersenyum dan hanya mengeluarkan air mata, paman saya yang sudah memang sejak awal disana mengatakan kepada saya untuk bilang bahwa saya ikhlas dan harus mengatakan sebuah pesan terakhir untuk ayah saya, saya turutin permintaan paman saya dengan tangis terendap-endap saya berkata
” Papa, kalau memang papa harus pergi. Saya ihklas, saya janji untuk menjaga adik dan Mama. Dan akan menjadi anak yang berbakti !”
Ayah hanya mampu menuliskan pesan lewat tangannya
” Maafkan papa tidak bisa memberikan buku yang papa janjikan..”
Dan senyuman terakhir ayah saya menjadi kenangan terakhir pada saya, saya cium kakinya untuk terakhir kalinya dan usai pemakaman saya baru menyadari bahwa ayah saya mengidap kanker paru-paru. Saya bersyukur disaat kematian ayah saya banyak dari tetangga saya yang beraneka ragam ikut membantu prosesnya dan bahkan mereka juga memberikan bantuan dana untuk meringankan beban saya. Terdengar oleh saya dari seorang tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayah saya
” Dia ( ayah saya) adalah seorang dokter yang bisa menolong orang dengan baiknya tapi sayang dia tidak bisa menyadari apa yang terjadi dalam dirinya. Orang ini begitu mulia, lihatlah hampir semua pasien yang pernah ditolongnya datang untuk memberikan penghormatan”
Saya bangga sekaligus bersedih hati, ayah saya sukses sebagai seorang manusia yang mengajarkan saya tentang arti kehidupan dan menolong orang. Ibu saya mungkin orang yang paling mengalami cobaan paling hebat dalam hidupnya ketika harus menjadi tulang punggung sepenuh hati setelah ayah saya meninggal. Saya juga berjuang untuk membantu beban keluarga saya agar ibu saya bisa tertolong karena adik saya masih membutuhkan dana yang besar guna mendapatkan pendidikan sembilan tahun. Tapi syukuran kehidupan kami bisa berjalan dengan baik berkat ibu saya yang memang wanita luar biasa.
Dewasa ini saya menjadi penulis novel dan salah satunya yang saya tulis adalah kisah perjuangan seorang anak melawan kanker seperti yang saya alami. Kisah yang saya tulis bukan semata mayang untuk menghibur tapi menyampaikan sebuah pesan dan kisah inspiratif, saya bersyukur bahwa saya berhasil untuk pesan saya ini. kisah yang saya tulis dalam novel saya telah membuat banyak orang terisnpirasi akan perjuangan dan arti kehidupan
Setelah saya menepati janji saya untuk menjadi anak yang berguna dan berbakti, Saya pun teringat oleh janji ayah saya kepada saya tentang buku yang akan ia janjikan, Saya merasa buku itu sudahlah tidak penting karena saya sudah jauh dari bangku pendidikan. Saya pun menyumbangkan sebagian hasil penjualan buku saya untuk memberikan kepada yang tidak mampu sebagai bentuk penepatan janji ayah saya pada saya. Saya ingin dia bahagia di alam sana dan menyadari bahwa janjinya kepada saya telah terpenuhi.
Ibu saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya hingga pada saat ini kebahagiaan saya adalah untuk memberikan hal paling indah yang bisa saya berikan kepadanya bersama adik saya. Dan merekalah cinta terakhir saya ..
Agnes Davonar.
AYAH
Ayah…
Hal terindah dalam hidupku adalah nafas yang kau berikan
Ayah……..
Hal terbaik dalam hidupku adalah kenangan bersamamu
Ayah…….
Hal yang bisa kulakukan terakhir untukmu hanyalah sebuah puisi ini
Kenanglah semua yang pernah ada dalam hidup kita
Karena hanya itulah tali yang mengikat hubungan kita
Apapun yang terjadi dalam hidupku kelak
Kau adalah pencipta langkahku
Sekarang dan selamanya.
>> Saya ambil dari postingan teman di salah satu grup
Jumat, 18 November 2011
Pasang butang google Plus One
Google telah telah mengeluarkan butang alternatif kepada Facebook dan tweeter yang dipanggil +1.Jika anda suka dengan sesuatu artikel yang dibaca pada blog atau web anda boleh klik butang tersebut.Klikkan pada butang tersebut membolehkan artikel tersebut mudah dijumpai ketika membuat carian pada google.Butang ini berkesan pada carian search engine kerana ia akan mengira jumlah +1 yang ada.Kiraan ini boleh dilihat jika kita memasuki laman google webmaster tools.
Cara memasangnya.
1.Masuk ke dashboard blogger>Design > Edit HTML
2.Klik pada ‘Expand widget Templates’.
3.Cari kod </head> dan letakkan dibawah ini diatasnya:
4.cari kod <data:post.body/> dan letak seterusnya ini dibawahnya:
5.Kemudian simpan template anda untuk saksikan tampilan butang tersebut.
Cara memasangnya.
1.Masuk ke dashboard blogger>Design > Edit HTML
2.Klik pada ‘Expand widget Templates’.
3.Cari kod </head> dan letakkan dibawah ini diatasnya:
<script type="text/javascript" src="http://apis.google.com/js/plusone.js">
{lang: 'en-US'}
</script>
{lang: 'en-US'}
</script>
4.cari kod <data:post.body/> dan letak seterusnya ini dibawahnya:
<div>
<g:plusone size="standard" expr:href="data:post.url"/>
</div>
Size pada kod selain dari standard boleh ditukar kepada small,medium atau tall<g:plusone size="standard" expr:href="data:post.url"/>
</div>
5.Kemudian simpan template anda untuk saksikan tampilan butang tersebut.
Kamis, 10 November 2011
Pasang butang follow dan dashboard
Mungkin anda pernah melihat butang follow dan dashboard yang diletakkan dibahagian atas header pada sesuatu blog.Butang ini memudahkan kita untuk masuk kedashboard pada template yang tiada nav bar dan juga bagi pengunjung untuk follow blog kita tanpa perlu tercari cari dimana widget tersebut dipasang.
Bagi anda yang ingin membuatnya ikutilah langkah berikut ini:
1.Masuk ke dashboard--Design
2.Pilih Page Elements--Add a gadget
3.HTML/Javascript
4.Masukkan kod dibawah ini:
<div style="position: fixed; top: 5px; right: 95px;"><a class="linkopacity" href="http://www.blogger.com/follow-blog.g?blogID=4716908564396232368" target="_blank" rel="nofollow" title="Follow !" imageanchor="1" style="margin-left: 2em; margin-right: 2em;"><img src="http://i219.photobucket.com/albums/cc282/garam63/FOLLOW.png" border="0" /></a><div style="display:scroll; position:fixed; top:5px; right:2px;"><a class="linkopacity" href="http://blogger.com/home" target="_blank" rel="nofollow" title="Dashboard !" imageanchor="1" style="margin-left: 2em; margin-right: 2em;"><img border="0" height="25" src="
http://i219.photobucket.com/albums/cc282/garam63/dash.png" /></a></div></div>
http://i219.photobucket.com/albums/cc282/garam63/dash.png" /></a></div></div>
5.Tukarkan blog ID diatas kepada id blog anda yang boleh didapati dibahagian atas semasa anda hendak memasukkan kod widget
6.Kemudian klik pada save
# letakkan kod dibahagian bawah ruangan add a gadget yang ada pada template anda supaya ia tidak terlindung dengan widget yang ada bila page discroll...:)
klik butang +1
Kamis, 03 November 2011
Recent Post dengan Thumbnail
Widget ini akan memaparkan artikel artikel yang ada pada blog kita.Seakan akan sama dengan tutorial sebelum ini iatu cara pasang animated recent post cuma yang membezakannya ialah ia tidak bergerak.
Cara memasangnya:
1.Masuk ke Dashboard
2.Pilih Add Page elements
3.Add a gadget
4.HTML/Javascript
Masukkan kod berikut:
<script language="JavaScript">
imgr = new Array();
imgr[0] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[1] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[2] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[3] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[4] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
showRandomImg = true;
boxwidth = 245;
cellspacing = 8;
borderColor = "#ffffff";
bgTD = "#000000";
thumbwidth = 42;
thumbheight = 42;
fntsize = 10;
acolor = "#666";
aBold = true;
icon = " ";
text = "Komen";
showPostDate = true;
summaryPost = 100;
summaryFontsize = 10;
summaryColor = "#666";
icon2 = " ";
numposts = 10;
home_page = "http://jendela-id.blogspot.com/";
</script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/recentpost.js" type="text/javascript"></script>
imgr = new Array();
imgr[0] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[1] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[2] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[3] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
imgr[4] = "https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifhrvINwjOqtKq2v2MOnfxzVCbGJ7BIPw_ZIl3FOFHcidHJCoYqGG8mcO4KgSVc1_Y4EdeAQss1P3m2hJq9Jr2ftPTWhJ1NFC7XGHnuwyf-Ghzb5hoAcGHMu9CRpKbOuGh2_kzAg6QD9bu/s1600/No-Image.gif";
showRandomImg = true;
boxwidth = 245;
cellspacing = 8;
borderColor = "#ffffff";
bgTD = "#000000";
thumbwidth = 42;
thumbheight = 42;
fntsize = 10;
acolor = "#666";
aBold = true;
icon = " ";
text = "Komen";
showPostDate = true;
summaryPost = 100;
summaryFontsize = 10;
summaryColor = "#666";
icon2 = " ";
numposts = 10;
home_page = "http://jendela-id.blogspot.com/";
</script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/recentpost.js" type="text/javascript"></script>
5.Tukarkan teks berwarna merah dengan alamat blog anda dan teks biru kepada bilangan post yang hendak dipaparkan.
6.Kemudian klik pada save.
Sabtu, 29 Oktober 2011
Cara pasang kursor bintang berjatuhan
Sebagai mana tajuknya tutorial cara kali ini adalah cara untuk memasang kursor bintang berjatuhan.Efek bintang berjatuhan ini akan tampil bila mana cursor digerakkan pada blog.
Berikut adalah cara memasangnya:
1.Login ke Blogger
2.Klik Pada Design → Page elements
3. Add a Gadget → HTML/JavaScript
Kemudian pilih warna yang dingini pada kod berikut :
Bintang warna hitam
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/black_star.js" type="text/javascript"></script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/black_star.js" type="text/javascript"></script>
Bintang warna hijau
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/green_star.js" type="text/javascript"></script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/green_star.js" type="text/javascript"></script>
Bintang warna merah
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/red_star.js" type="text/javascript"></script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/red_star.js" type="text/javascript"></script>
Bintang warna puteh
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/white_star.js" type="text/javascript"></script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/white_star.js" type="text/javascript"></script>
Bintang warna kuning
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/yellow_star.js" type="text/javascript"></script>
<script src="https://sites.google.com/site/jendela-id/tbb/yellow_star.js" type="text/javascript"></script>
Setelah memasukkan kodnya,klik pada save untuk melihat hasilnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

